Saumlaki, Jurnalinvestigasi.com - Di tengah tantangan global yang semakin kompleks krisis iklim, degradasi lingkungan, dan krisis spiritualitas sebuah gerakan sederhana lahir dari akar iman dan cinta tanah. Di Tanimbar, sebuah wilayah kepulauan di Indonesia Timur yang kaya akan budaya dan nilai-nilai spiritual, menanam pohon tidak sekadar menjadi agenda lingkungan, tetapi menjadi bentuk pewartaan iman yang hidup. Inilah yang menjadi nafas dalam gerakan “Menanam Pohon, Menyemai Harapan” yang digalakkan oleh Persekutuan Hari Besar Gerejawi (PHBG) Jemaat Sejahtera. Ia adalah ajakan untuk menjadikan tanah sebagai altar dan pohon sebagai pujian yang terus bertumbuh.
Apa yang dilakukan oleh PHBG Jemaat Sejahtera bukanlah gerakan sesaat yang digerakkan oleh tren. Ia lahir dari kesadaran mendalam akan panggilan iman untuk mengasihi seluruh ciptaan. Dalam setiap penanaman pohon, ada napas spiritualitas yang dihembuskan: bahwa Allah tidak hanya bersemayam di surga, tetapi juga berjalan di tengah tanah yang kita cangkul, berkarya dalam benih yang kita semai. Penanaman pohon menjadi ibadah yang menghidupkan kembali relasi manusia dengan tanah, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta.
Pohon bukan hanya simbol ekologis. Ia adalah lambang dari relasi antara manusia dan waktu. Saat seorang anak menanam pohon bersama kakeknya, mereka sedang membangun jembatan antar generasi. Saat seorang remaja merawat pohon kecil yang ia tanam saat Natal, ia sedang menumbuhkan karakter yang bertahan menghadapi zaman. Inilah bentuk pendidikan yang utuh: bukan hanya melalui kata-kata, tetapi lewat pengalaman langsung mencintai dan merawat.
Lebih dari itu, pohon menjadi pewarta bisu dari kabar baik. Ia tidak memiliki suara, tetapi melalui dedaunannya yang menari, bayangannya yang melindungi, dan buahnya yang memberi makan, ia bersaksi tentang kasih Allah yang memelihara tanpa pamrih. Saat jemaat menanam pohon di sekitar fasilitas umum, sekolah, dan rumah warga, mereka sedang berkata: “Kami peduli. Kami hadir. Dan kami percaya pada masa depan.” Sebuah injil yang tidak diteriakkan, tetapi ditanam.
Keunikan dari gerakan ini adalah keterlibatannya yang menyeluruh dan inklusif. Dari anak-anak hingga lansia, dari jemaat hingga warga lintas agama, semua terlibat dalam satu gerakan kolektif. Ini menunjukkan bahwa perawatan bumi bukan milik satu golongan, melainkan tanggung jawab bersama. Dan melalui gerakan ini pula, terjadi perjumpaan yang hangat antar komunitas, saling memahami, saling menolong, dan saling menyemai harapan.
Tradisi “Pentakosta Menanam” adalah wujud lain dari keberanian menafsirkan hari-hari besar gerejawi secara kontekstual. Roh Kudus yang turun dalam rupa lidah-lidah api kini diwujudkan dalam akar-akar yang menghujam tanah. Semangat Pentakosta tidak hanya membakar semangat rohani, tetapi juga menggerakkan tangan untuk menanam, memupuk, dan merawat bumi. Ini adalah bentuk nyata dari iman yang bekerja dalam kasih.
Penting untuk dicatat bahwa menanam pohon bukan pekerjaan yang instan. Ia menuntut ketekunan, komitmen, dan pengharapan. Inilah yang menjadi pembentukan karakter jemaat. Anak-anak belajar bersabar, remaja belajar bertanggung jawab, orang tua belajar menyerahkan hasil kepada waktu. Dalam dunia yang serba cepat dan instan, merawat pohon menjadi latihan untuk tetap setia dalam proses yang panjang.
Liturgi yang dirayakan di tanah, bukan hanya di dalam gedung gereja, adalah bentuk spiritualitas yang menyatu dengan bumi. Ketika jemaat menyanyi sambil menanam, ketika tangan menyentuh tanah sambil menyebut nama-nama nilai kehidupan, maka saat itu ibadah menjadi nyata. Bukan lagi ritual kosong, tetapi tindakan iman yang konkret. Gereja tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi komunitas yang menumbuhkan kehidupan.
Tanimbar, dengan segala keindahan alamnya, membutuhkan penjaga yang tidak hanya peduli, tetapi juga bertindak. Gerakan menanam pohon ini adalah bentuk kesaksian bahwa gereja bisa menjadi agen perubahan yang nyata, tidak hanya bicara keselamatan jiwa, tetapi juga penyelamatan ciptaan. Dari satu pohon, lahir banyak harapan. Dari satu tindakan sederhana, terbit masa depan yang lebih hijau dan lebih adil.
Tajuk ini hendak menegaskan: bahwa di tengah dunia yang sering lupa pada akar dan alam, Gereja justru diundang untuk kembali ke dasar menanam, merawat, dan percaya. Menanam pohon bukan hanya soal ekologi, tetapi soal spiritualitas, edukasi, relasi, dan masa depan. Jemaat Sejahtera telah memberi contoh bahwa iman yang hidup adalah iman yang berakar di tanah, bertumbuh dalam kasih, dan menghasilkan buah bagi generasi yang akan datang. Mari kita ikut menanam. Sebab setiap pohon adalah doa yang tidak pernah berhenti.
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan" (1 Korintus 3:6)
Redaksi Media Jurnal Investigasi