Saumlaki, Jurnalinvestigasi.com – Jemaat GPM Sejahtera merayakan momen bersejarah dengan ditahbiskannya Gedung Gereja Sejahtera yang telah selesai direhabilitasi. Peresmian ini semakin istimewa karena bertepatan dengan pembukaan Persidangan Ke-51 Klasis GPM Tanimbar Selatan, yang berlangsung hingga 25 Maret 2025. Acara ini bukan hanya menandai selesainya pembangunan gereja, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi gereja dalam menentukan arah kebijakan pelayanan ke depan.
Pentahbisan gereja ini menjadi puncak dari perjalanan panjang jemaat untuk memiliki tempat ibadah yang lebih representatif. Sebelumnya, jemaat menggunakan Balai Pembinaan Umat (BPU) yang dibangun pada tahun 2009 dan digunakan sejak 2011 sebagai tempat ibadah sementara. Setelah jemaat GPM Sejahtera resmi dimekarkan dari jemaat GPM Saumlaki pada 15 Januari 2023, kebutuhan akan gereja yang lebih layak semakin mendesak.
Proses rehabilitasi gereja dimulai pada 17 November 2024 dan mencakup pembaruan lantai, plafon, bagian depan gereja, mimbar, serta teras. Selama empat bulan pengerjaan, jemaat bekerja keras hingga akhirnya pada 23 Maret 2025, gedung gereja ini resmi ditahbiskan sebagai simbol keteguhan iman dan kebersamaan jemaat.
Selain pentahbisan, acara ini juga ditandai dengan pembukaan Persidangan Ke-51 Klasis GPM Tanimbar Selatan, yang akan membahas berbagai isu strategis gereja, termasuk kepemimpinan, peran gereja dalam masyarakat, serta kebijakan gerejawi ke depan. Salah satu agenda utama adalah pemilihan anggota Majelis Pekerja Klasis yang akan menentukan kepemimpinan gereja di masa mendatang.
Acara ini dihadiri oleh 415 jemaat serta 175 peserta persidangan, terdiri dari 83 peserta biasa dan 92 peserta luar biasa. Hadir pula perwakilan Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt. Y. Coling, S.Th., serta Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, yang turut meresmikan gereja dengan menandatangani prasasti dan menekan tombol sirine sebagai tanda dimulainya persidangan.
Semangat Jemaat dalam Membangun Gereja
Ketua Klasis Tanimbar Selatan, Pdt. H. R. Tupan, M.Th., menekankan bahwa rehabilitasi gereja ini merupakan hasil dari kerinduan jemaat untuk memiliki tempat ibadah yang lebih layak. Ia menyoroti keunikan persidangan kali ini yang berlangsung di awal kepemimpinan pemerintahan daerah yang baru serta menjelang Sidang Sinode GPM.
"Ini bukan hanya tentang membangun fisik gereja, tetapi juga membangun spiritualitas dan kebersamaan jemaat. Melalui perjalanan panjang ini, kita melihat bagaimana jemaat bekerja bahu-membahu, memberikan waktu, tenaga, dan sumber daya mereka untuk memastikan rumah Tuhan berdiri dengan lebih megah dan layak," ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa persidangan ini menjadi ajang refleksi bagi gereja dalam menghadapi tantangan zaman. "Kita harus memastikan bahwa gereja terus relevan dalam menjawab berbagai tantangan. Persidangan ini bukan hanya membahas hal-hal administratif, tetapi juga merumuskan langkah-langkah konkret agar gereja semakin berdampak dalam kehidupan jemaat dan masyarakat," tambahnya.
Ketua Panitia Pembangunan Gedung Gereja Sejahtera, Brampi Moriolkosu, SH, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pentahbisan ini. Proyek rehabilitasi ini dapat terwujud berkat dukungan berbagai pihak, termasuk bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar Rp200 juta, sumbangan donatur senilai Rp46,6 juta dalam bentuk natura, serta hasil penggalangan dana panitia sebesar Rp83,45 juta.
Pdt. Mario Lawalata turut menyoroti semangat gotong royong jemaat dalam pembangunan gereja. Menurutnya, keterlibatan jemaat sangat luar biasa, bukan hanya dalam bentuk sumbangan dana, tetapi juga tenaga dan penyediaan bahan bangunan.
"Jemaat menunjukkan semangat pelayanan yang luar biasa. Mereka tidak hanya berkontribusi secara finansial, tetapi juga secara langsung menangani berbagai pekerjaan, mulai dari pengecatan, pemasangan lantai, hingga penyediaan bahan bangunan. Semua ini dilakukan dengan penuh sukacita dan rasa memiliki terhadap gereja," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan gereja ini bukan hanya hasil kerja panitia, tetapi juga merupakan wujud kebersamaan yang kuat dalam jemaat. "Gereja bukan hanya bangunan, tetapi juga tentang persaudaraan dan kebersamaan. Semangat yang ditunjukkan jemaat ini adalah bukti nyata dari nilai-nilai kekristenan yang hidup dalam keseharian mereka," tambahnya.
Gereja dan Komitmen Pelayanan Sosial
Perwakilan MPH Sinode GPM, Pdt. Y. Coling, S.Th., menekankan bahwa gereja memiliki tanggung jawab untuk hadir sebagai solusi bagi umat, terutama dalam bidang sosial dan ekonomi. Ia mengangkat program Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, dan Memasarkan sebagai salah satu upaya gereja dalam membangun kemandirian ekonomi jemaat.
"Di tengah berbagai krisis yang kita hadapi, gereja harus hadir dengan solusi nyata bagi umat. Kita harus memanfaatkan lahan tidur untuk meningkatkan ketahanan pangan jemaat," ujarnya.
Selain ekonomi, persidangan ini juga membahas isu moral, pendidikan, dan kesehatan sebagai prioritas utama gereja dalam lima tahun ke depan.
Salah satu fokus utama yang diangkat dalam sidang adalah peningkatan layanan kesehatan di Kepulauan Tanimbar. Pdt. Y. Coling menegaskan bahwa Gereja Protestan Maluku memiliki komitmen kuat dalam mendorong akses kesehatan yang lebih baik, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.
"Kesehatan merupakan salah satu aspek fundamental dalam kehidupan umat. Oleh karena itu, gereja harus mengambil peran aktif dalam mendorong kebijakan yang mendukung akses kesehatan yang lebih baik, mulai dari ketersediaan tenaga medis, fasilitas kesehatan yang memadai, hingga program kesehatan berbasis komunitas," katanya.
Hasil rekomendasi persidangan ini akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk mendorong kebijakan kesehatan yang lebih inklusif. "Kami berharap pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan gereja dalam mengembangkan program kesehatan berbasis komunitas. Gereja siap menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan," tambahnya.
Pentahbisan Gedung Gereja Sejahtera dan Persidangan Ke-51 Klasis GPM Tanimbar Selatan menjadi simbol nyata dari perjalanan iman jemaat GPM Sejahtera. Acara ini tidak hanya menandai peresmian tempat ibadah yang lebih layak, tetapi juga momentum bagi gereja untuk terus berkembang dalam pelayanan, kemandirian ekonomi, serta kesejahteraan sosial bagi jemaat dan masyarakat luas. Dengan semangat gotong royong dan komitmen kuat dalam bidang sosial serta kesehatan, diharapkan gereja semakin relevan dalam menghadirkan perubahan positif bagi kehidupan umat. (NFB)